Orang Gohoni yang termasuk etnis Korowai tinggal di wilayah hutan belantara di Kecamatan Kow, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Sekelompok orang Gohoni dipimpin oleh seorang Nate. Nate adalah sebutan bagi anggota suku yang dituakan dan dihormati dalam etnis Korowai.

Etnis Korowai masih menganut kepercayaan animisme. Mereka percaya alam semesta dihuni oleh para roh leluhur, roh baik, roh pelindung dan roh jahat. Untuk melindungi kehidupan sehari-hari dari pengaruh roh jahat, maka segala bentuk pengaruh jahat harus dilenyapkan demi kelangsungan hidup kelompok dan tempat tinggalnya. Berbagai jenis pengaruh jahat mereka yakini masuk melalui raga mereka. Bagi mereka yang sudah kerasukan, maka keberadaannya pun harus ikut dimusnahkan. 

Suanggi adalah sebutan bagi seseorang yang diketahui kerasukan roh jahat. Oleh sebabnya mereka meyakini bahwa suanggi dapat membahayakan kelangsungan hidup warga. Sehingga perburuan terhadap suanggi seakan menjadi suatu keharusan. Ketika suanggi tersebut telah berhasil dilenyapkan untuk menyelamatkan kelangsungan hidup warga, maka tubuh suanggi yang sudah terbunuh wajib dibagikan ke seluruh warga. Hal ini sebagai tanda bahwa tempat mereka tinggal sudah bebas dari pengaruh roh jahat. 

Etnis Korowai memang dikenal sebagai satu-satunya suku di Indonesia yang masih melakukan praktek kanibalisme. Hanya saja praktek kanibalisme yang dilakukan hanya berlaku untuk mengenyahkan pengaruh roh jahat di sekeliling mereka. Begitulah orang Korowai meyakininya dalam siklus budaya kehidupan sehari-hari mereka.

https://stockshot.id/video/rear-view-a-small-group-of-korowai-people-walking-in-the-forest-in-merauke-papua-10894.html

Dalam kesehariannya Orang Korowai selalu hidup dalam kelompok. Untuk melindungi keluarga di kelompoknya, kaum lelaki biasa melengkapi diri dengan senjata tradisional, yakni busur panah dan seperangkat anak panah. Mereka tidak pernah sekalipun melepaskan busur dari tubuhnya. Kalau pun mereka harus melepaskannya, sudah pasti busur dan anak panah tersebut berada di dekat mereka.

Persenjataan tradisional mereka ini sebenarnya berfungsi ganda. Selain sebagai alat pertahanan diri dan alat perang, busur dan anak panah juga digunakan untuk berburu binatang di hutan. Hewan yang biasa mereka buru adalah babi hutan. 

Selain dengan busur dan anak panah, mereka biasa juga menjebak binatang hutan dalam sebuah perangkap. Biasanya binatang yang jadi sasaran berukuran lebih kecil dari babi hutan. Teknik pembuatan perangkap sangatlah sederhana. Bahan kerangka perangkap memanfaatkan dahan dan kayu yang biasa tumbuh di hutan, lalu direkatkan dengan kulit rotan. 

Perangkap ini akan ditinggalkan di tempat yang selalu dilewati oleh binatang hutan yang mereka incar. Insting akan tanda-tanda alam yang sudah terasah menjadi alarm, bahwa binatang buruan mereka sudah terperangkap.

https://stockshot.id/video/elders-of-korowai-tribes-setting-up-a-trap-to-catch-birds-at-the-forest-in-merauke-papua-9492.html

Selain berburu, orang Gohoni juga mengkonsumsi ikan air tawar sebagai sumber makanan mereka. Cara mereka menangkap ikan air tawar cukup unik. Orang Gohoni tidak menggunakan bubu untuk menjerat ikan, namun dengan membendung aliran air di area sungai kecil yang ada di hutan, dimana kumpulan ikan biasa bermigrasi. Sisi hilir aliran mereka tutup dengan ranting dan dedaunan, sementara sisi hulu mereka buat seperti bendungan. Dengan demikian ikan yang melewatinya dapat mengarah menuju bendungan yang sudah dibuat. Setelah menunggu beberapa waktu, mereka mulai menimba air yang terbendung dan membuang ke sisi lainnya, maka ikan yang terperangkap bisa mereka kumpulkan dan mereka bungkus dengan daun untuk menjaga kesegaran ikan.

Ulat sagu juga menjadi makanan mereka. Biasanya mereka menemukannya dalam batang pohon sagu yang sudah lapuk. Mereka mengorek batang pohon sagu tersebut untuk mencari ulat sagu yang mereka konsumsi sebagai tambahan protein. Ulat sagu bagi mereka adalah makanan kecil atau kudapan yang bisa disantap kapan saja. Bisa dimakan hidup-hidup atau dibakar layaknya sate ulat sagu. 

Pembagian peran antara laki-laki dan perempuan juga berlaku dalam etnis Korowai. Salah satunya pembagian kerja dalam mengolah sagu. Hutan sebagai tempat tinggal mereka dikeliling oleh banyak pohon sagu. Ketika saatnya mereka harus mengumpulkan sagu kaum lelaki bertugas mencari pohon sagu yang siap ditebang dan mereka ambil sagunya. Begitu terpilih, maka penebangan dilakukan dengan menggunakan kapak batu yang mereka buat sendiri. Setelahnya, maka tiba saatnya kaum perempuan untuk memangkur batang sagu dan pada akhirnya pati sagu pun didapat. Kerja kaum perempuan biasanya dibantu juga oleh anak-anak mereka.

https://stockshot.id/video/an-elder-of-korowai-tribe-chopping-down-a-sago-tree-with-a-axe-in-merauke-papua-9496.html

Begitulah Orang Gohoni dari suku Korowai, mempertahankan hidup mereka di tengah belantara hutan dengan segala kehidupan yang masih sangat tradisional.

Kebahagiaan hidup bagi mereka tercermin dari kebersamaan mereka dalam kelompok untuk saling melindungi satu sama lainnya baik dari pengaruh buruk di sekitar mereka maupun dari segala bentuk bahaya yang dapat mengancam kehidupan dan keberadaan para anggota klan dan keluarga mereka. 

Catatan yang sayang dibuang dari perjalanan ini bagi saya pribadi adalah: 
Ini adalah perjalanan yang paling wild bagi saya mengunjungi suku primitif yang masih tersisa di ujung timur Indonesia. Kesan pertama yang saya rasakan adalah betapa sangar dan kerasnya wajah para tetua adat dan warganya yang sedang saya hadapi. Para perempuan yang saya temui pun terlihat begitu keras dengan garis muka yang cukup bergurat tegas. 

Sudah terbayang bagi saya bagaimana kehidupan yang mereka hadapi, terlebih ketika informasi yang saya dapat seminggu sebelum saya dan tim tiba di Korowai, mereka baru saja berperang antar mereka karena salah satu dari mereka ternyata adalah suanggi. Dan perburuan terhadap suanggi pun baru saja berakhir. Mutilasi dan kanibal terhadap seorang suanggi pun selesai sudah. Namun rasa waspada diantara mereka masih begitu terasa. 

Selama perjalanan kami sampai di perkampungan orang Gohoni memang berkecamuk "rasa" yang tidak menentu. Tapi ketegangan tiba-tiba menjadi hilang ketika timbul hasrat saya untuk dapat merasakan lebih dekat lagi dengan mereka.

https://stockshot.id/video/tilt-down-a-nate-making-fire-by-rubbing-dry-rattan-skin-on-a-piece-of-wood-over-a-dash-of-dried-roots-in-merauke-papua1-10885.html

Dan benar saja, ketika waktunya kami harus pulang meninggalkan mereka setelah sekitar 20 hari kami bersama, ada rasa yang kosong. Sepanjang perjalanan kembali dari kampung Korowai menuju bibir sungai tempat kami harus berpisah, air mata saya tidak terbendung mengalir dan bergenang di bibir kelopak mata saya.

Sang Nate menolong saya ketika itu saat saya hampir terpeleset dan menyebutkan kata yang masih saya ingat sampai saat ini,"Saya akan selalu melindungi anak saya, yang mungkin tidak pernah akan bertemu lagi sampai kapan pun nanti. Dan saya akan melindunginya sampai saya melepas anak saya, di titik saya tidak bisa lagi mengantarnya. "(tentunya kalimat itu diterjemahkan oleh pengantar kami, mantri Alimin).

Dan hingga saat ini, perjalanan menuju Korowai adalah perjalanan saya yang paling menyentuh sepanjang perjalanan saya keluar masuk hutan menemui berbagai suku pedalaman yang ada di pelosok tanah air.

Penampilan mereka memang begitu kasar, kokoh, dan terlihat wild, namun mereka memiliki hati yang begitu lembut yang pernah saya rasakan sepanjang perjalanan membuat sejumlah film dokumenter di beberapa wilayah di Indonesia.